Isu Utama – Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi capital outflow atau dana asing keluar berdasarkan pasar domestik mencapai Rp7,42 triliun.

Aliran dana keluar itu terjadi menurut data transaksi pada 27 Juni – 30 Juni 2022 lalu. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai munculnya dana asing berdasarkan pada negeri lantaran terdapat kekhawatiran risiko resesi ekonomi semakin tinggi tajam. Ini sejalan dengan naiknya harga pangan dan energi di negara maju.

“Proyeksi paling lambat resesi terjadi pada awal 2023 dan ini picu kepanikan investor asing. Ada sinyal resesi akan berlangsung lama atau long recession sampai butuh 3 tahun untuk recovery,” ungkapnya Rabu (6/7/2022).

BACA JUGA : 10 Kajian Isu Strategis Pemerintah, Prioritas Balitbang Inovda di Tahun 2022

Bhima melihat saat ini telah terdapat perindikasi-perindikasi terjadinya pelemahan ekonomi dalam negeri. Salah satunya inflasi Indonesia saat ini telah menyentuh 4,3 % secara year on year (yoy) pada Juni 2022.

Inflasi ini tertinggi semenjak 2017 mempengaruhi pendapatan emiten di bursa dan mendorong tingkat suku bunga naik secara agresif. Kondisi di atas menciptakan Non Performing Loan (NPL) bank akan melonjak terutama yang bersumber dari kredit korporasi. Selain itu biaya bahan baku perusahaan juga akan naik tajam sebagai akibatnya terpaksa lakukan efisiensi yang berdampak ke terbukanya kesempatan kerja.

Dengan kondisi tersebut, Bhima menilai investor akan mengalihkan dana ke aset yang aman menjauhi aset berisiko. Salah satunya saham dan surat utang di negara berkembang. “Indikator pelarian ke safe haven terlihat dari naiknya indeks dolar menjadi 106.4 atau melonjak 10,6 persen sejak awal tahun 2022,” jelasnya.

BACA JUGA : Heboh !  Isu Alun-Alun Utara Yogyakarta Dijual

(SH) 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments